Coriolis flow meter menggunakan tabung yang diberi energi dalam bentuk getaran yang tetap. Ketika fluida (cair atau gas) masuk dan melewati tabung tersebut, akan ada momentum aliran massa yang menyebabkan perubahan pada getaran tabung, selanjutnya tabung akan berputar dan menghasilkan pergeseran fasa. Pergeseran fase ini kemudian akan diukur dan menghasilkan data massa aliran.

Turbine Flow Meter sendiri umumnya menerapkan dua buah tabung. Tabung tersebut akan bergetar berlawanan satu sama lain melalui koil magnetik. Sensor dalam bentuk rakitan magnet serta koil ditempatkan pada saluran masuk (inlet) dan saluran keluar (outlet) pada kedua tabung.

Ketika koil bergerak melalui medan magnet maka akan menimbulkan tegangan dalam bentuk gelombang sinus atau sinusoidal. Gelombang sinus yang dihasilkan akan menjadi kunci utama dalam mengukur aliran massa fluida.

Dalam kondisi tanpa aliran, gelombang sinusoidal pada inlet dan outlet berada pada fase yang sama satu sama lain. Ketika fluida mengalir melalui tabung, tabung akan berputar secara proporsional sesuai dengan massa aliran yang melewatinya.

Dalam kondisi ini, sensor yang terletak pada saluran masuk dan keluar akan mendeteksi jumlah putaran berdasarkan pergeseran fasa dan akan digambarkan dalam bentuk gelombang sinusoidal yang dihasilkan oleh kedua sensor. Dengan kata lain, massa aliran berasal dari perbedaan pergeseran fasa yang membentuk gelombang atau frekuensi sinus, selanjutnya frekuensi sinus tersebut akan diubah dalam bentuk angka pada unit controller.

Meskipun flow meter ini secara inheren mengukur laju aliran massa, pengukuran terus menerus dari densitas fluida memungkinkan flow meter ini untuk turut mengukur debit aliran.