Kisah Pengusaha Wanita Sukses dari Nol
Kisah seorang pebisnis sukses yang merintis dari nol sebenarnya bisa jadi motivasi bagi orang lain. Perjuangan, semangat, dan kerja keras para wanita sukses dapat menginspirasi para wanita yang tengah berupaya merintis usaha dari level terbawah.
Nah, berikut ini telah kami rangkum 5 kisah pengusaha wanita sukses, meski mulai dari keluarga yang mempunyai keterbatasan ekonomi.
1. Susi Pudjiastuti

Kisah pebisnis wanita sukses yang pertama datang dari Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2014-2019, Susi Pudjiastuti. Wanita kelahiran Pangandaran tanggal 15 Januari 1965 tersebut merupakan putri seorang peternak dan penjual hewan potong. Uniknya, Susi adalah salah satu menteri yang tidak mengenyam pendidikan tinggi saat menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan pada 2014 lalu.
Setelah mengambil keputusan berhenti sekolah saat SMA, Susi memilih untuk berbisnis baju dan juga bed cover. Kemudian, karena ia hidup di dalam lingkungan nelayan di Pangandaran, Susi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertekun usaha perikanan. Dengan modal sekitar Rp 750.000, ia membeli ikan dari pelelangan dan menjualnya ke beberapa restoran.
Meski sempat banyak restoran yang tidak yakin dengan mutu ikan jualannya, Susi tetap semangat dan konsisten di dalam berusaha. Hingga akhirnya ia sukses menjadikan banyak restoran sebagai konsumennya, apalagi merambah bisnisnya ke ekspor ikan dan lobster. Saat mengirim hasil laut dalam jumlah banyak, ia juga mempunyai hambatan karena mengayalkan kesegaran ikan dan lobsternya agar tetap terjaga.
Namun, persoalan tersebut bisa terselesaikan dengan inspirasi sebuah pesawat yang sanggup mengakomodir pengirimannya. Akan tetapi, persoalan lain muncul ketika Susi harus sabar tunggu pinjaman bank yang ia ajukan pada tahun 2000 untuk merealisasikan idenya.
Pinjaman tersebut akhirnya cair pada tahun 2005 sebanyak Rp 45 miliar, yang setelah itu ia manfaatkan untuk membangun landasan udara dan membeli 2 unit pesawat. Bisnisnya terus berkembang sampai Susi Air jadi salah satu maskapai penerbangan yang bisa melayani rute pedalaman dan carter.
Setelah jadi Menteri dalam Kabinet Kerja Trisakti, Susi masih aktif berbisnis sampai mempunyai total kekayaan sampai Rp 78 miliar pada 2020 lalu.
2. Martha Tilaar
Nama Martha Tilaar mulai kondang sejak munculnya merek kosmetik atau jamu legendaris Indonesia, Sariayu. Dikutip dari web resmi Martha Tilaar Group, usaha tersebut berawal dari salon kecantikan kecil berukuran 4×6 meter pada tahun 1970. Ide tersebut ia lakukan setelah pulang dari Amerika Serikat untuk menemani suaminya yang bekerja.
Selama di AS, Martha Tilaar melanjutkan sekolah di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, yang membuatnya akrab dengan dunia kosmetik dan kecantikan. Salon pertamanya ia buka di garasi kediaman orang tua Martha Tilaar, di Menteng, Jakarta Pusat.
Promosi berbentuk lembaran brosur pun ia sebarkan dari rumah ke rumah sampai bisa menarik pelanggan dari kalangan warga asing. Dalam waktu 6 bulan, salon yang berada di garasi rumah orang tuanya bisa berubah ke area yang lebih besar. Kemudian, pada tahun 1972, Martha Tilaar membuka salon kecantikan keduanya di Menteng dengan nama Martha Griya Salon. Salon inilah yang jadi titik awal perawatan kecantikan tradisional berbasis tanaman herbal dan usaha kecantikannya.
Setelah lima tahun, bisnisnya pun melebar ke produk kecantikan dan jamu tradisional dengan merk Sariayu-Martha Tilaar di bawah PT Martina Berto. PT Martina Berto merupakan perusahaan yang berdiri atas kerjasama dengan Bernard Pranata (almarhum) dan Theresia Harsini Setiady, pendiri Kalbe Group. Pada 1981, Martha Tilaar mendirikan PT Sari Ayu Indonesia untuk menunjang PT Martina Berto di dalam mendistribusikan produknya.
Perlahan, Martha Tilaar pun sukses mengakuisisi PT Martina Berto dan membentuk Martha Tilaar Group pada tahun 1999. Kini Martha Tilaar Group terdiri atas lebih dari satu perusahaan yang berfokus pada beragam bidang, mulai dari pemasaran, distributor, pendidikan, sampai penyedia tenaga kerja.
3. Nurhayati Subakat
Selain Martha Tilaar, ada juga kisah pebisnis wanita yang sukses di dalam bidang kosmetik dan kecantikan, Nurhayati Subakat. Wanita cerdas lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Farmasi ini pernah bekerja sebagai Apoteker di rumah sakit Kota Padang Panjang. Setelah lama bekerja, Nurhayati tukar ke Jakarta dan bekerja di perusahaan kosmetik terkenal sebagai staf quality control.
Meski kariernya telah menanjak di perusahaan tersebut, Nurhayati sesudah itu memilih muncul dari perusahaan dan merintis usahanya sendiri. Nurhayati Subakti mulai mencoba untuk membuat produknya sendiri berbentuk sampo dengan merk Puteri. Ia pun memperkenalkan produknya tersebut ke beberapa salon di wilayah Jakarta dan merasa di terima oleh masyarakat.
Usahanya terus meningkat sampai bisa mendirikan PT Pusaka Tradisi Ibu untuk memanajemen usaha samponya tersebut. Sayangnya, pabrik milik Nurhayati habis terbakar setelah berdiri selama 5 tahun. Kejadian tersebut membuatnya sempat ingin menutup usaha yang telah ia bangun sejak lama.
Namun, ia menampik untuk menyerah dan mencoba bangkit ulang dengan modal yang ia peroleh dari tabungan suaminya. Pabriknya yang baru akhirnya berdiri dan melakukan inovasi yang menargetkan konsumen Muslimah dengan meluncurkan produk bermerek Wardah pada 1995. Penjualan produk kosmetiknya ini melonjak mencolok dan sukses mendistribusikannya ke pasar mancanegara, seperti Malaysia dan Bangladesh.
Pada tahun 2011, PT Pusaka Tradisi Ibu sesudah itu beribah nama jadi PT Paragon Technology and Innovation yang menaungi ratusan product kosmetik. Kini, produknya telah menguasai pasar kosmetik nasional dan sukses meraup omzet sampai Rp 200 miliar per bulan.
4. Diajeng Lestari
Kamu pernah membeli baju dari Hijup.com? Nah, Diajeng Lestari adalah pendiri dari Hijup yang menyediakan beragam produk terbaik karya designer fashion muslimah Indonesia. Hijup.com adalah islamic fashion e-commerce pertama di dunia yang berdiri pada tahun 2011 dan jadi perantara pada para designer dengan calon pembeli.
Wanita kelahiran Bekasi, 17 Januari 1986 ini mulai menyukai usaha sejak muda yang terinspirasi dari profesi ibunya yang merupakan seorang wirausaha. Diajeng Lestari memulai karir profesionalnya sebagai seorang Consultant di instansi pemerintahan asal Jerman untuk menganalisis klien dan mitra perusahaan.
Setelah 9 bulan bekerja, Diajeng memilih untuk keluar dari perusahaan dan berhimpun dengan MARS Indonesia, sebagai Research Executive. Kemudian, ia menikah dengan Achmad Zaky yang merupakan pendiri sekaligus CEO E-commerce “Bukalapak”. Setelah menikah, Diajeng menemukan inspirasi untuk mendirikan web komersial yang berfokus pada penjualan baju muslimah. Suaminya pun turut menunjang penuh inspirasi berikut dan menunjang istrinya untuk mendirikan Hijup, yang merupakan kependekan dari Hijab Up.
Bisnisnya pun bermula dengan bantuan dua orang karyawan, satu orang admin pc dan seorang admin gudang. Sementara itu, tim IT perusahaan suaminya membantu dalam pengerjaan web Hijup. Sampai saat ini, Hijup terus berkembang dan kondang apalagi ke mancanegara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Australia, dan beberapa negara Eropa. Kerja keras Diajeng pun berbuah manis sampai sukses memperoleh pendanaan awal sebesar tujuh digit dari Fenox Venture Capital1.
5. Catherine Hindra Sutjahyo
Selain Diajeng Lestari, pendiri ZALORA ini juga telah sukses mendirikan perusahaan retail baju ternama Indonesia. Terkenal sebagai wanita cerdas dan energik, Catherine Hindra Sutjahyo telah merintis karirnya dengan berhimpun pada perusahaan konsultasi kelas dunia, MCKinsey.
Namun, perihal itu tidak semerta membuat Catherine langsung berpuas diri. Pada 2012, ia dengan salah seorang rekannya, Hadi Wenas, mendirikan fashion online Zalora. Sejak saat itu, bisnisnya makin berkembang dan mendapat tanggapan positif dari publik sampai mempunyai kurang lebih 200 karyawan. Analisisnya yang tajam terhadap usaha E-commerce pun membuahkan hasil yang maksimal.
Kini, web Zalora telah ada di beberapa negara Asia seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Hongkong, dan Taiwan. Setelah empat tahun berkarier di Zalora, Catherine memandang kesempatan baru di dalam dunia retail dan menjabat sebagai CEO Alfacart. Alfacart adalah sebuah terobosan baru di dalam dunia retail yang mempermudah masyarakat di dalam mencukupi kebutuhannya secara praktis dengan harga yang sama.
Kemudian, ia berhimpun dengan Go-Jek, sebagai Chief Commercial Expansion yang memimpin platform Go-Food sejak Oktober 2017. Melalui platform tersebut, Catherine punya niat membantu para pebisnis kuliner kecil untuk mengembangkan usaha mereka melalui program Go-Food Festival yang kini telah ada di 22 wilayah di Indonesia.



