cara membuat kompos rumput kering

kompos rumput kering

 kompos rumput kering dilakukan dengan pemupukan agar tanaman juga dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal, baik berupa pupuk organik maupun anorganik.

Namun penggunaan pupuk organik juga dianjurkan, karena hasil pertanian yang dihasilkan selain lebih murah juga lebih aman untuk dikonsumsi.

Diantara semua jenis pupuk organik yang bisa digunakan adalah pupuk kompos karena kompos ini juga memiliki manfaat lebih untuk tanah dan tanaman yang tidak kalah menariknya dengan pupuk anorganik.

metode produksi

Sebelum menggunakan kompos, gulma terlebih dahulu harus benar-benar kering, setelah kering dipotong kecil-kecil, yang bertujuan untuk mempercepat proses pengomposan.

Langkah selanjutnya adalah membuat larutan pengurai dengan memecah bahan organik/gulma untuk menjebak unsur hara dan memudahkan tanaman menyerapnya. Larutkan gula merah secukupnya dengan cara ditumbuk/diremas hingga agak larut, lalu tambahkan 1 gelas air dan aduk hingga larut.

Tambahkan gula merah halus ke dalam 3 liter air dan aduk hingga benar-benar larut. Tambahkan juga starter seperti MOL hingga 200ml sebagai sumber bakteri pembusuk, aduk kembali hingga campuran merata. Baca artikel sebelumnya untuk mengetahui cara membuat mikroorganisme MOL topikal. Jika Anda tidak memiliki MOL, Anda juga dapat menggunakan EM4.

Masukkan gulma kering ke dalam kantong plastik, tuang sedikit demi sedikit ke dalam larutan pelarut dan aduk hingga basah merata dan mencapai kadar air yang diinginkan, yaitu. H.H. Terasa lembab tapi tidak mengeluarkan air saat ditekan. .

Saat kelembapan yang diinginkan tercapai, ikat plastik dengan sangat erat. Proses fermentasi yang sangat sukses ditandai dengan kenaikan suhu selama 3 hari pertama yang terasa sangat hangat bahkan panas.

Setelah 4 minggu fermentasi, tersedia kompos siap pakai, yang ditandai dengan deformasi yang sangat kuat dibandingkan dengan keadaan alami, lebih halus dan lebih lunak/gembur, berwarna coklat sedikit lebih gelap dari tanah liat.

pengolahan data

Parameter sistem yang diamati adalah:

1. Tinggi tanaman diperiksa setiap 2 minggu sejak tanam sampai umur 3 bulan dengan cara mengukur tinggi tanaman dari pangkal batang utama sampai pucuk batang (pucuk) dikurangi cm.
2. Jumlah daun pada tanaman diperiksa setiap 2 minggu sejak tanam sampai 3 bulan. 3. Diameter batang diukur dengan mikrokaliper. Dan pengukuran dilakukan kira-kira setiap 2 minggu sekali setelah tanam sampai tanaman berumur kurang lebih 3 bulan.
4. Luas daun yang diamati pada akhir pengamatan dengan membuang seluruh daun tanaman kakao dan mengukur luas permukaan dengan luas daun meter Parameter lingkungan tanam yang diamati didasarkan pada analisis lingkungan awal tanaman sebelum tanam dan pada akhirnya
Unsur yang dianalisa setelah tanam adalah pH, ​​makronutrien (N, P, K, Ca, Mg, S) dan mikronutrien (Fe, Zn, Cu, Mn, B, Mo, Cl). Bahan tanaman yang akan dianalisis adalah tanah galian batu, kompos matang dan agregat campuran
dengan kompos.

perkecambahan biji

1. Biji kakao dikecambahkan di dalam tanah di dalam planter dengan menempatkan biji kakao di dalam tanah sampai terkubur di dalam tanah. Sebelum berkecambah, benih direndam dengan fungisida.2. Setelah berkecambah, bibit berumur 4 minggu, setelah itu bibit ditanam dalam polybag besar sesuai perlakuan. Penanaman 1 tanaman kakao dengan pertumbuhan yang sama ditanam pada setiap polibag untuk setiap perlakuan. Hindari penyiraman saat tanah lembap atau basah.

2. Selama penelitian, penyiangan dilakukan baik di polibag maupun di persemaian. Pengendalian hama dan penyakit terjadi apabila gejala infeksi muncul maka dapat digunakan insektisida yaitu matador.