Satuan Polisi Pamong Praja bersama dengan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Manggarai Barat mengamankan sebuah mobil tanki pengangkut BBM punya Pertamina di Pelabuhan Pelni Labuan Bajo.

Mobil bersama dengan no polisi L 9421 U0 selanjutnya tertangkap tangan sedang isi solar ke kapal pesiar Felixia.

Solar selanjutnya diketahui dipesan oleh Andiaskar dengan sebutan lain Arzat. “Saya yang pesan beli solar di (SPBU) Pertamina Non subsidi di Gorontalo. Jumlah yang kami pesan adalah 4.000 liter flow meter solar. Saya meminta antar lasung ke area yaitu ke Pelabuhan Pelni untuk isi lasung ke kapal,”ujar Andiaskar saat dikonfirmasi.

Andiaskar mengaku tidak tahu isi lagi langsung mobil tanki dilarang. Ditanya soal pemilik kapal ia mengatakan, “Setahu aku kapal Felixia itu punya Rumah sakit Siloam gara-gara pak Jems Riady sering gunakan kapal tersebut,”ujarnya.

Ia menyatakan rencananya James Riady  pemilik Grup Lippo juga rumah Sakit Siloam Labuan Bajo – besok bakal berlayar ke sebuah pulau di sekitar Labuan Bajo.”Makanya hari ini kami isi bahan bakar,”ujarnya.

Pegawai CV Bintang Mas, pengakut BBM Pertamina, Oktavuanus Dara Jaka Dana mengakui bahwa dirinya yang memerintahkan sopir untuk mengangkut solar untuk diisi di kapal pesiar tersebut. “Semuanya aku koordinasi bersama dengan pimpinan saya,”ujarnya.

 

Oktavianus membetulkan kastemer memesan sebanyak 4.000 liter  untuk kebutuhan kapal pesiar Felixia. Ia menyatakan harga per liter untuk solar Rp 7.550 sedangkan pertamax seharga Rp 9.000 per liter.

Oktavianus menyatakan pihaknya gunakan mobil tanki untuk mengantar pesanan kapal pesiar selanjutnya gara-gara tidak ada kendaraan lain untuk mengantar.

“Apalagi mobil tangki baru masuk tadi pagi, dari terhadap isi di (SPBU) Pertamina lebih baik antar langsung saja ke pelabuhan,”ujarnya.

 

Kasat Pol PP Frans Partono menyatakan operasi tangkap tangan berlangsung sekitar pukul 09.00 Wita.

“Secara peraturan mobil tanki cuma isi bahan bakar ke (SPBU) Pertamina, tidak boleh lakukan isi lasung ke kastemer bila di kapal pesiar. Sedangkan yang mau beli BBM harus singgah isi di Pertamina (SPBU),”ujar Frans.

Frans menyatakan setelah berkoordinasi bersama dengan Dinas Energi dan Pertambangan serta Asisten III dan Wakil Bupati, diputuskan para pelaku membuat surat pernyataan untuk tidak ulangilah perbuatannya.

“Dan bahan bakarnya dikembalikan lagi ke Pertamina (SPBU) non subsidi di Gorontalo,”ujarnya