Meningkatkan kekuatan sumber kekuatan manusia (SDM) dengan menguatkan literasi nyata-nyata disadari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora. Menyadari ketertinggalan warganya dalam pendidikan mengakibatkan Pemkab Blora memacu cara dengan menyiapkan sekolah dan layanan perpustakaan yang mumpuni.

Ketertinggalan ekonomi sepanjang bertahun-tahun sampai kemiskinan yang capai 11%, antara lain disebabkan keterbatasan kekuatan SDM yang terjalin dengan pendidikan. Sepanjang perjalanan di area ujung timur Jawa Tengah cuma keluar kawasan hutan dikarenakan 50% lokasi Blora merupakan hutan.

Ada hutan produksi, hutan rakyat, dan hutan lindung. Secara ekonomi hutan tersebut tidak mampu segera dinikmati warga. Keterbatasan ekonomi dan infrastruktur terhitung menjadi rintangan dalam menuntut ilmu, supaya menjadikan rendahnya mutu SDM yang ada.

Menyadari perihal ini, Pemkab Blora sepanjang lima th. terakhir melaksanakan terobosan dalam usaha tingkatkan kekuatan pendidikan warga melalui sekolah resmi dan nonformal dengan pemberian infrastruktur yang ada. Salah satu yang dilakukan adalah memperkaya literasi warga dan mengimbuhkan kesempatan luas untuk belajar dengan membangun layanan pendidikan (sekolah) berkualitas. Selain itu, Pemkab Blora terhitung membangun sebuah perpustakaan yang memadai besar.

“Buku adalah jendela ilmu, maka kita mendorong kekuatan warga dengan sedia kan buku-buku yang berkualitas. Ada ratusan ribu buku di sini dan perpustakaan ini terkoneksi dengan perpustakaan nasional secara digital,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Blora Aunur Rofiq. Bupati Blora Djoko Nugroho mengaku sangat bahagia dan bangga dengan menjadi dibukanya gedung perpustakaan area bernama Blora Library ini.

Menurutnya, dikarenakan perpustakaan ini dikehendaki mampu memenuhi keperluan warga akan ilmu ilmu dan literasi lengkap yang udah puluhan th. diimpi-impikan. “Alhamdulillah cuma dalam kala satu tahun, pembangunan l gedung empat lantai yang disempurnakan dengan layanan carry ini udah mampu digunakan untuk perpustakaan daerah,” kata Djoko Nugroho kala meresmikan Blora Library.

Membangun gedung cuma butuh kala singkat, lanjut Djoko, tapi yang sulit adalah membangun minat baca. Oleh dikarenakan itu, gedung baru ini terhitung disempurnakan dengan bermacam layanan penunjang supaya anak-anak tertarik datang. “Ada area bermain, kafe, layanan internet gratis dan sudah pasti buku pustaka yang dibutuhkan. Kalau di Kunden ada Gudang Banyu, di sinilah Gudang Ilmu,” tambahnya.

Agar Perpustakaan Daerah ini ramai dan dikunjungi, ujar Djoko, dia pun merekomendasikan Dinas Perpustakaan Kearsipan Blora untuk merekrut pelajar berasal dari sekolah kira-kira sebagai pengelola sirkulasi buku secara bergantian. “Selain itu, harus adanya regulasi kunjungan siswa sekolah secara teratur ke perpustakaan,” papar Djoko. Blora Library ialah sebuah lompatan besar yang dilakukan Blora.

Gedung perpustakaan megah yang dibangun empat lantai berada di Jalan Rajawali Barat, tepatnya sebelah barat Lapangan Kridosono, Blora. Biaya pembangunannya capai Rp10 miliar yang berasal dari pemberian Perpustakaan Nasional melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) 2019

Perpustakaan ini mengimbuhkan layanan pada hari Senin-Kamis pukul 07.00 – 15.30 WIB, Jumat menjadi 06.00-11.30 WIB, dan Sabtu pukul 08.00-15.00 WIB. Setiap lantai membawa manfaat layanan yang mampu memenuhi keperluan pengunjung. Lantai satu digunakan untuk ruang layanan sirkulasi dan informasi, layanan tempat massa, layanan kliping, layanan keanggotaan, layanan OPAC, layanan internet publik wifi acces dan layanan bermain edukasi anak.

Lantai dua dimanfaatkan untuk ruang layanan pengembangan perpustakaan dan Hubungan Antar Lembaga (HAL), layanan internet publik wifi acces dan layanan pojok Blora serta ruang audio visual. Lantai tiga digunakan sebagai ruang layanan koleksi bahan pustaka, layanan koleksi referensi, layanan pelestarian bahan pustaka, ruang pengolahan bahan pustaka dan layanan internet publik wifi acces.

“Baru kali ini aku mendapatkan perpustakaan megah dengan beragam layanan dan koleksi buku bacaan lengkap, baik yang bersifat fisik maupun digital,” kata Ernawati,23, mahasiswa di Semarang kala berkunjung di Perpustakaan Daerah Blora.